Scientific Abstract (Bilingual)
Abstrak (ID): Trauma avulsi gigi permanen merupakan kegawatdaruratan gigi yang memerlukan penatalaksanaan segera guna memelihara viabilitas sel-sel ligamen periodontal (PDL). Pedoman konsensus International Association of Dental Traumatology (IADT 2020) menggarisbawahi bahwa durasi waktu ekstraoral kering (*extraoral dry time*) di atas 60 menit secara signifikan meningkatkan resiko ankilosis dan resorpsi akar penggantian (*replacement resorption*). Media transportasi optimum seperti larutan garam fisiologis Hank (HBSS), susu dingin, atau saline harus digunakan jika replantasi langsung di lokasi kejadian tidak memungkinkan. Splinting fleksibel pasif selama 2 minggu terbukti menghasilkan prognosis periodontal terbaik.
Abstract (EN): Complete avulsion of permanent teeth represents a true dental emergency where immediate management dictates long-term prognosis. The 2020 IADT guidelines mandate minimizing extraoral dry time to preserve periodontal ligament (PDL) progenitor cell viability, employing physiological transport media, and applying passive non-rigid splints for 14 days.
Protokol Penatalaksanaan Avulsi di Klinik
- Inspeksi Gigi Avulsi: Pegang gigi hanya pada bagian mahkota, hindari menyentuh permukaan akar. Bersihkan kotoran kasar dengan mengalirkan saline steril secara perlahan tanpa menggosok permukaan sementum.
- Inspeksi Alveolus: Irigasi soket secara lembut dengan saline untuk mengeluarkan bekuan darah lama; jangan lakukan kuretase pada dinding soket.
- Replantasi & Reposisi: Masukkan kembali gigi ke dalam soket dengan tekanan jari halus dan konfirmasi posisi yang benar secara klinis dan radiografis.
- Fiksasi Splinting Fleksibel: Pasang splinting fleksibel (kawat ortodonti 0.016” atau benang pancing dengan resin komposit) selama 2 minggu. Hindari splinting kaku yang dapat memicu ankilosis tulang.
- Terapi Endodonsia Berencana: Pada gigi permanen dengan apeks tertutup penuh, perawatan saluran akar wajib dimulai 7–14 hari pasca-replantasi (sebelum splint dilepas) menggunakan medikamen kalsium hidroksida non-setting selama 2–4 minggu sebelum obturasi gutta-percha.
- Profilaksis Sistemik: Rujuk pasien untuk booster tetanus dan berikan antibiotik sistemik spektrum luas (Amoksisilin atau Doksisiklin).
Referensi Ilmiah (References)
- Fouad, A. F., et al. (2020). International Association of Dental Traumatology guidelines for the management of traumatic dental injuries: 2. Avulsion of permanent teeth. Dental Traumatology, 36(4), 331-342.
- Andersson, L., et al. (2012). International Association of Dental Traumatology guidelines for the management of traumatic dental injuries: 2. Avulsion of permanent teeth. Dental Traumatology, 28(2), 88-96.