Scientific Abstract (Bilingual)
Abstrak (ID): Kegagalan perawatan saluran akar pada molar pertama maksila sebagian besar diakibatkan oleh terlewatkannya kanalis mesiobukal kedua (MB2). Studi anatomi mikroskopik dan CBCT melaporkan prevalensi MB2 mencapai 70% hingga 95%. Orifisium MB2 umumnya tertutup oleh tonjolan dentin sekunder (*dentin shelf*) dan terletak 1–3 mm ke arah palatal dari orifisium MB1 di sepanjang garis perkembangan mesial. Penggunaan Dental Operating Microscope (DOM) dengan pembesaran 12x–20x disertai troughing terkontrol menggunakan tip ultrasonik berlian secara signifikan meningkatkan angka keberhasilan identifikasi MB2 hingga di atas 90%.
Abstract (EN): Failure in maxillary molar endodontics predominantly stems from an unnegotiated second mesiobuccal canal (MB2), which anatomically occurs in 70-95% of cases. Utilizing high-magnification Dental Operating Microscopes (DOM) and diamond-coated ultrasonic tips for calcified dentin troughing ensures reliable MB2 identification and negotiation.
Tantangan Anatomis Saluran MB2
Akar mesiobukal molar pertama maksila memiliki bentuk pipih bucco-lingual yang sering memuat dua sistem saluran yang dapat bergabung di foramen apikal yang sama (Vertucci Tipe II) atau keluar secara independen dengan dua foramen terpisah (Vertucci Tipe IV). Saluran MB2 umumnya keluar dari dasar ruang pulpa dengan sudut masuk tajam ke arah mesial sebelum berbelok ke arah apeks, menyulitkan eksplorasi jarum manual tanpa modifikasi akses koronal.
Langkah-Langkah Troughing Ultrasonik Terkendali
- Modifikasi Bentuk Akses: Perluas garis dinding mesiobukal kavitas akses ke arah mesio-palatal, membentuk kontur trapesium atau belah ketupat daripada segitiga konvensional.
- Visualisasi Mikroskopik (DOM): Keringkan dasar pulpa dan gunakan pembesaran 16x–20x dengan pencahayaan koaksial LED untuk mengidentifikasi subpulpal groove antara orifisium MB1 dan Palatal.
- Ultrasonic Troughing: Gunakan tip ultrasonik mikro berlian (seperti BAP-1 atau Start-X #2) dengan gerakan menyapu halus ke arah mesio-palatal sedalam 1–2 mm dari orifisium MB1 untuk mengikis overhang dentin.
- Uji Gelembung Champagne (Champagne Test): Banjiri kavitas dengan NaOCl hangat; pelepasan gelembung mikro oksigen dari titik tertentu di alur dentin mengindikasikan letak orifisium MB2.
- Negosiasi Awal (Initial Scouting): Gunakan C-pilot file atau K-file ukuran #06, #08, atau #10 dengan pelumas chelating (RC-Prep/Glyde) untuk menegosiasikan saluran hingga panjang kerja penuh.
Referensi Ilmiah (References)
- Stropko, J. J. (1999). Canal morphology of maxillary molars: clinical observations of canal configurations. Journal of Endodontics, 25(6), 446-450.
- Kulild, J. C., & Peters, D. D. (1990). Incidence and configuration of canal systems in the mesiobuccal root of maxillary first and second molars. Journal of Endodontics, 16(7), 311-317.
- Buhrley, L. J., et al. (2002). Effect of magnification on locating the MB2 canal in maxillary molars. Journal of Endodontics, 28(4), 324-327.